FPR : Hentikan Tekanan Bagi Warga Papua

No Comment Yet

Djakartanews. sejumlah unjuk rasa yang berujung kerusuhan terjadi di beberapa titik di Papua, unjuk rasa atau demonstrasi ini dipicu oleh kejadian pengepungan dan perusakan Asrama Mahasiswa Papua (AMP) di Surabaya pada Jumat (16/8). Dalam banyak video yang beredar, sejumlah orang tampak mengepung asrama tersebut dan beberapa orang, yang di antaranya berpakaian seperti anggota TNI, meneriakkan kata-kata yang tidak pantas, misalnya dengan sebutan nama-nama hewan, terhadap mahasiswa-mahasiswi asal Papua tersebut.

Symphati Dimas, Sekretaris FPR (Front Perjuangan Rakyat) menjelaskan bahwa kerusuhan yang terjadi di beberapa titik di Papua tersebut memang disebabkan oleh pengepungan Asrama Mahasiswa Papua di Surabaya beberapa hari sebelumnya dan perlakukan diskriminasi rasial yang diterima mahasiswa-mahasiswa Papua di Surabaya tersebut.

“Sebenarnya yang memicu itu ‘kan persoalan diskriminasi rasialnya. Karena orang Papua disamakan dengan binatang. Nah itu kalau bicara tentang identitas ke-Papua-an, memang itu sebuah bentuk penghinaan yang menurut saya cukup serius. Karena bagaimanapun, Papua itu bagian dari indonesia. Mereka sebenarnya setara dengan kita juga, kenapa harus muncul ungkapan-ungkapan seperti itu?” jelas Dimas, saat dihubungi Djakartanews, Senin (26/8).

Menurut  Dimas , akar-akar permasalahan itulah yang harus segera diselesaikan pemerintah Indonesia. contoh soal pembangunan di Papua misalnya. “Pembangunan di Papua dalam sektor ekonomi siapa, sih, yang menguasai? Kan pendatang, bukan orang Papua sendiri. Itu kan juga soal,” ujarnya.

 “Secara fisik pembangunan (di Papua) konektivitasnya bagus, tapi manusia Papuanya kan tidak dibangun dalam arti diperlakukan dengan setara, kemudian dibuat pintar, dibuat sehat, dibuat nyaman untuk tinggal di Papua dan menjadi bagian dari Indonesia.”

“Kemudian soal kekerasan. Kekerasan ini ada kekerasan aparat, kekerasan kelompok sipil, tapi juga mengata-ngatai orang Papua secara verbal, itu juga bentuk kekerasan. Jadi kekerasan verbal itu juga ada dan itu dialami oleh orang-orang Papua selama ini. (Martin)

djakartanews

Author

djakartanews

Up Next

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *